Masih jelas teringat ketika saya disuruh menghapal NPM saya dan berteriak sekeras mungkin di depan akang-eceu Fakultas Peternakan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 04.55 pm ketika saya diberi pembekalan PMB setelah registrasi UNPAD jalur SNMPTN tanggal 3 Agustus, sedangkan saya harus pulang ke Ciamis hari itu juga.

“NAMA SAYA MUTIARA, NPM 20 – 01 – 1 – 010 – 0244 !!!”

Tiga kali tepatnya saya mengulang kata-kata saya hingga akhirnya terdengar tepuk tangan..

“KANG, CEU APPLAUSE!”

Sebenarnya agak kesal juga. Saya membiasakan diri saya untuk selalu menepati komitmen saya, terutama komitmen untuk tepat waktu. Saat itu perhitungan awal saya, saya akan selesai registrasi pukul 2.00 pm, tepat 3.pm saya sudah berangkat dengan BIS BUDIMAN menuju Ciamis dan semua itu karena saya janji pada adik saya untuk datang sebelum pukul 7.00 pm. Tanggapan pertama saya ketika tahu ternyata ada pembekalan oleh panitia PMB adalah, “Innalillahi, kasihan adik saya Ya Allah, dia sendirian di rumah, semoga saya bisa menepati janji saya.”

Kembali lagi ke topik. Saat saya menghapal NPM saya sama sekali tidak kesulitan. Bahkan saya hanya melihat sekilas dan langsung ingat. Awalnya saya pikir mungkin karena dari kecil saya memang suka mengingat angka dan saya mahir dengan hal yang berbau angka. Saya suka mengingat nomor HP, notasi lagu dan coding program vb saya. Tapi tulisan ini tidak bermaksud untuk sombong, karena setelah saya sadar ternyata nomor NPM saya memang familiar di ingatan saya. Mungkin itulah alasan yang tepat mengapa saya mudah mengingatnya. Dua digit terahir NPM saya sama dengan NIS saya (070810044).

Saya merasa diingatkan oleh Allah. Mungkin ketika saya sadar angka 44 itu mengingatkan saya dengan NIS SMA saya, saya harus semakin menguatkan tekad saya untuk lebih baik dari masa sebelumnya saat saya SMA. Saya harus ingat betapa Allah mempercayai saya dengan memberikan saya amanah lulus SNMPTN di UNPAD. Saya harus ingat betapa kedua orang tua saya begitu percaya pada saya sebagai anak pertama yang memang pantas dijadikan panutan bagi adik saya. Saya harus ingat betapa ibu saya sangat menginginkan saya kuliah, mendoakan saya tanpa merasa lelah dan merelakan butiran air matanya ketika menghadap Allah hanya untuk saya. Saya harus ingat betapa ayah saya mencari uang siang dan malam untuk saya agar saya bisa kuliah, tanpa memperdulikan cuaca, apakah itu harus kehujanan, kepanasan dan kedinginan.

Saya harus ingat ketika guru-guru saya mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kesuksesan saya, mendoakan saya setiap hari dan menunjukan saya jalan pengingat agar saya membentengi hati dan pikiran saya untuk selalu jujur. Saya harus ingat saat guru-guru dan semua penghuni pesantren setiap pagi dan malam selalu mendoakan saya, mengumandangkan doanya di madrasah dan mesjid hanya untuk kesuksesan saya, hanya karena ingin melihat saya bahagia. Saya harus ingat betapa terharunya saya melihat support dari kakek, uwa, om, tante dan kakak-kakak sepupu saya.

Itulah alasan mengapa saya harus ingat. Karena saya harus bersyukur dan menjadikan rasa syukur saya menjadi energi saya menjalani kuliah agar saya bisa kembali ke kampung halaman saya dengan membawa banyak prestasi dan saya bisa membalas kebaikan semua orang yang menyayangi saya. Hari ini, mungkin baru itu alasan yang saya temukan. Hari lain, saya akan menemukan hikmah yang baru. Barokallohu fikum. Amin.