Tadi malam daerah tempatku tinggal mendapat giliran mati lampu dari PLN. Minggu ini sedang musim ujian. Kemarin aku tidak dapat mengikuti ujian karena sakit. Aku melewatkan tiga mata ujian kemarin. Entah mengapa aku bisa sakit. Aku menyesalinya karena tidak masuk sekolah sama halnya dengan menumpuk stress. Salah. Aku lupa. Aku harus mensyukurinya.

Ayahku bekerja di Samarinda untuk menafkahi keluargaku. Itulah hidup. Butuh banyak bumbu pengorbanan. Bulan ini ayahku banyak pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkannya disana. Kasihan Ayah. Kasihan pula ibuku yang selalu merindukan ayah. Akupun rindu. Rindu pada ayahku. Rindu saat-saat kita semua berkumpul. Tapi aku tak sanggup melihat rasa ridu pada ibuku. Beliau segalanya bagiku. Akhirnya dengan sedikit rasa berat hati, aku mengalah kepada rasa rinduku, ayahku, dan ibuku. Aku membiarkan Ibuku menjenguk lelaki yang sangat dicintainya yang telah menemaninya, membantunya menyempurnakan ibadahnya untuk Allah SWT.

Bertambahlah daftar orang yang kurindukan. Aku rindu Ayah. Aku rindu Ibu. Sekarang aku di sini menggantikan posisi mereka. Akulah kepala keluarga sekarang. Semua tanggung jawab ada pada genggamanku. Aku memiliki malaikat kecil di rumah yang belum tahu apa-apa, yang harus kujaga. Inilah yang membuatku semakin berfikir. Tidak semudah membalik telapak tangan menjaga dia. Malaikat itu adikku. Dia adikku. Satu-satunya adik kandungku yang kusayangi. Satu-satunya keluargaku saat semua meninggalkanku. Dia harapanku.

Tidak mudah meyakinkannya akan kenyataan ibuku yang sedang pergi menjenguk ayahku ke Kalimantan. Mungkin karena umurnya yang masih belia. Masih banyak yang harus dipelajarinya, sama seperti diriku ini.

“Kaka…ade kangen sama Ibu.”

Mungkin aku bisa menahan tangis jika kata-kata itu terlintas di benakku. Mungkin aku bisa tegar dan kuat. Tapi saat itu,..Saat rumahku hanya diterangi oleh cahaya lilin kecil, aku serasa tak berdaya. Aku tak mampu memungkiri rasa haru ketika kata-kata itu terlontar dari bibir adikku dengan pipinya yang basah. Aku hanya bisa memeluknya, merangkulnya ke pangkuanku yang tak sebanding hangatnya dengan hangatnya pangkuan ibuku.

“Ade jangan nangis ya sayang…Ibu bentar lagi kan pulang…Sekarangkan ada kakak, ade mau apa bilang aja ke kakak, asal gak boleh nangis lagi ya sayang.”

Hanya itu yang sanggup ku katakan. Aku memang bodoh! Seharusnya pipiku tak boleh tertular basah. Tapi apa daya. Aku tak sanggup berkompromi dengan mataku ini. Kedua mataku tak tahu cara berbohong.

Pikiranku melayang-layang. Menerawang seolah tanpa batas. Mengingat kenangan mati lampu yang kumiliki bersama keluargaku. Aku beruntung. Lagi-lagi kata-kata itu yang terlontar ketika aku mengingat keluargaku. Tapi itu kenyataan. Aku bersyukur karena aku memang sangat beruntung dilahirkan oleh rahim ibuku yang penuh cinta dan doa begitu juga dengan ayahku.

Keluargaku adalah keluarga yang sangat romantis. Ibuku suka dengan pria romantis, karena dia orang yang romantis. Benar kata pepatah, wanita yang baik akan mendapat pasangan yang baik pula. Ayahku adalah pria yang sangat romantis. Awalnya akupun tidak tahu arti romantis. Aku tidak menyadari bahwa kebahagiaan yang selama ini kurasakan saat berada di lingkungan keluargaku selama ini bisa disebut romantis sampai ibuku berbagi rasa dalam ceritanya kepadaku tentang rasa sayangnya pada aku, ayahku, dan keluarganya. Aku terharu akan pencitraannya tentang ayahku. Yang kudapat dari ceritanya diantaranya bahwa ayahku orang yang sangat romantis baik tutur kata maupun tingkah laku. Ayahku orangnya hangat dan sangat bertanggung jawab. Itulah alasan ibuku jatuh cinta padanya.

Kurasa ibuku tidak mengada-ada, Sinar matanya yang penuh cinta membuatku tergoda untuk memilikinya. Kedua orangtuaku sangat saling mencintai. Dengan cinta mereka membina keluarga. Dengan cinta mereka membentuk pribadi anaknya.

Pikiranku telah melayang kemana-mana. Di pangkuanku ada adik kecilku yang masih tersengguk-sengguk dengan pipinya yang masih basah. Ku coba sekuat tenaga menenangkan hati adikku yang penuh haru itu.

Aku memahami perasaannya. Wajar jika dia menangis saat lilin-lilin kecil menari-nari di setiap sudut ruangan rumahku saat ini. Satu kesimpulannya. Adik kecilku ini sedang mengingat kenangan manisnya bersama ibu dan ayahku juga diriku ketika suasana ini terulang dulu. Biasanya saat mati lampu kami selalu berkumpul di satu ruangan yang tak lain adalah kamar kedua orang tuaku. Aku dan adikku selalu bersembunyi dari kegelapan di dekapan ayah dan ibu kami. Aroma kehangatan sungguh meringankan hati. Kami bercerita, bersenda gurau bersama di kamar wangi kasih sayang sampai lilin-lilin kecil di setiap sudut rumah berhenti melakukan tugasnya ketika bola cahaya atap rumah kembali menerangi rumah pada kegelapan. Sungguh indah. Sulit dilupakan sampai adikku tak hentinya mengalirkan air mata karena mengingat hal itu.

Jangan menangis adikku sayang…

Kakak ada disampingmu…

Kakak akan selalu menemanimu, mengiringi langkahmu, menjagamu, sampai kita semua bertemu kembali di surga nanti…

Kumohon, jangan mati lampu lagi…kasihanilah aku, telah habis lilin di rumahku untuk tadi malam…Aku tak sanggup. Aku tak bisa! Aku tak akan membeli lilin lagi. Sampai ayah dan ibuku datang kembali, Sampai kami berkumpul lagi.

 

 

*) ini salah satu tulisan perdana saya saat berumur 15 tahun pada blog pertama saya yang masih tersimpan filenya