Tags

,

Hari itu Goes To Farm (baca: GTF) yang merupakan bagian dari pola pembinaan mahasiswa baru diselenggarakan di Kuningan. Peserta telah dihimbau dari jauh hari untuk berkumpul di Gerbang lama UNPAD pukul 05.00 am. Bella, Lydia, dan Nadhira bermalam di kamar saya. Mereka teman yang baik, membuat saya semangat mempersiapkan keperluan mengikuti acara GTF sejak semalam sebelumnya agar tidak terlambat berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Senang sekali bisa berkumpul bersama mereka. Rasanya bisa sedikit membuat rasa penat saya berkurang dengan tawa canda yang mereka hadirkan. Meskipun demikian, sangat disayangkan sekali tidak semua teman perempuan di kelas saya bisa ikut acara GTF, Tyas misalnya.

Paginya, kami sampai di kampus terlambat 7 menit. Tapi nyatanya belum ada satu panitia pun yang menampakkan batang hidungnya untuk mengarahkan peserta. Baiklah. Tidak ada ruginya menunggu sambil mendengarkan audio dakwah bil hikmah untuk mengganti murajaah safinah dan mendengarkan Muhammad Thaha Al-Junayd melantunkan murattalnya yang sangat indah. Belajar menjadi orang yang beruntung, yang menjadikan harinya saat itu lebih baik dari hari kemarin.

Kami menunggu sekitar 2,5 jam untuk bisa duduk di Bis. Lates. Memang hal demikianlah yang selalu terjadi. Tidak ada yang perlu dikeluhkan lagi karena panitia maupun peserta sama-sama terlambat. Langkah terbaik adalah berhenti mempermasalahkan siapa yang salah, tapi apa yang salah. Cara yang cukup bijak untuk memperbaiki sistem yang kurang disiplin dalam waktu untuk kedepannya.

Hanya 28 orang, peserta dari kelas E. Kami di tempatkan di bis 4 oleh Kak Ken. Semangat dan senyum ceria mengiringi langkah kami menuju bis 4 yang akan segera berangkat ke Kuningan. Sebenarnya ada beberapa hal yang mengganjal di hati saya sejak semalam. Perasaan saya sedikit tidak baik tanpa alasan yang pasti. Pagi itu saya berusaha keras melawan energi negatif dengan ikut semangat mengikuti acara GTF. Senang rasanya memiliki banyak teman yang baik yang selalu bisa menghibur hati, meskipun mereka tidak sadar bahwa senyum, canda, tawa yang mereka tularkan sangat berharga bagi saya, kapanpun itu.

Ternyata perjalanan ke Kuningan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tapi semua itu tidak menjadi masalah yang berarti bagi kami. Kami menikmatinya dengan mempererat kebersamaan kami di Bis. Berbagi canda, cerita, dan makanan tentunya (baca: hal yang paling ditunggu-tunggu barudak). Sayangnya, tidak semua penghuni kelas E bisa ikut menikmati kebersamaan ini. Tidak lengkap tanpa mereka, for sure. Berikut beberapa memori yang terekam dalam kamera HP saya.

Lydia, Nadhira, Yara, Bella, Irna, Santi


Selama perjalanan itu, perasaan tidak baik saya terus menghampiri. Saya sendiri bingung mencari alasannya. Alasan mengapa saya merasa tidak enak. Apa saya sakit? Apa karena saya takut panitia tidak akan mengizinkan saya untuk pulang ke Ciamis dan tidak mengikuti rombongan bis pulang ke Jatinangor? Rasanya tetap bukan itu alasannya. Padahal saya terus menghindari energi negatif ini. Tapi ternyata cukup sulit. Akhirnya saya memilih kembali mendengarkan Muhammad Thaha Al-Junayd sambil belajar menghapal.

Akhirnya sampai juga di Kecamatan Jalaksari Kabupaten Kuningan. Kesan pertama saat sampai di Pamulihan Farm adalah “wow rupanya seperti ini peternakan ayam petelur”. Awan mendung dan gerimis menemani kegiatan kami berkunjung ke peternakan ayam petelur tersebut. Kami berusaha untuk setenang mungkin dalam rombongan, karena menjaga agar ayam-ayam tersebut tidak stress. Meskipun demikian, imajinasi saya bilang kalau mereka nampak kaget sekali melihat banyak manusia melewati kandang-kandang mereka. “Maafkan kami ayam, melihat kepala dan mendengar suara kalian yang menyiratkan rasa khawatir, saya jadi kasihan. Sungguh tidak ada niat buruk.” (hehe).

Tidak banyak yang saya dapatkan di sana. Tadinya saya berharap, setiap kelompok mendapatkan satu orang ahli atau pengelola dari peternakan tersebut untuk menjelaskan mengenai peternakan ayam petelur tersebut secara umum. Manajemen pengelolaan ternaknya misalnya, atau proses pemeliharaan ternak yang baik yang biasa mereka lakukan. Kami hanya mencari informasi sendiri dengan bertanya pada penjaga kandang di sana yang nampaknya kurang akurat, karena setiap penjaga memberikan jawaban yang sangat jauh berbeda. Pengarahan dari pemilik peternakannya pun kurang memuaskan. Karena kurangnya perlengkapann yang memadai untuk membuat pengarahan menjadi efektif, contohnya keterbatasan pengeras suara. Berikut beberapa memori yang terekam dalam kamera HP saya yang bisa saya share kan.


Baiklah. Tidak ada yang perlu disesali sama sekali. Tetap harus bisa menyikapinya dengan positif. Bagaimanapun, niat saya mengikuti GTF adalah untuk menambah ilmu untuk menunjannng keilmuan yang saya pelajari sekarang untuk masa depan saya yang akan saya tempuh. Di sinilah pesan dari guru saya harus saya ingat dan saya membuat quotes kecil yang saya sukai, ” Nafkahilah otak kita dengan ilmu yang halal, dan hargailah ilmu yang kamu dapat dari siapapun, dari apapun, dan sebanyak apapun. “

Setelah habis 2 jam berada di Pamulihan Farm, saya terpaksa berpamitan pada teman-teman baik saya, 28 mahasiswa hebat dari kelas E yang sangat baik hati telah membuat saya semangat sejak pagi. Juga berpamitan pada semua senior-senior yang ada di Bis4 termasuk pupuhu “Group G3j3″ (Ka Asep, Ka Romi, Ka Eggy dan Ka Dudi-adik kepala sekolah saya yang notabene sama sekali tidak terbayang g3j3).

Saya minta diturunkan di depan Pasar Jalaksari untuk mencari bis menuju ciamis. Meskipun aga kurang sreg dengan suasananya (karena baru pertama kali naik bis dari kuningan) saya cukup berhasil menyamarkan rasa takut saya yang sebagian tidak beralasan ini. Tiba-tiba terdengar serentetan bunyi sms yang lama sekali baru berhenti dan baru saya bisa saya baca smsnya. Ternyata isinya adalah doa dari teman-teman dan senior agar saya selamat diperjalanan. Saya tidak perduli jika Bella mengatakan saya lebay karena menganggap ini mengharukan. Karena saya bahagia mendapat perhatian demikian. “Amin. Jazakumullah semuanya” bisikku dalam sendu.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Saya duduk di kursi bis belakang tepat dekat pintu belakang bis. Perasaan saya masih saja galau tanpa alasan. Saya putuskan untuk menelepon ibu dan ayah untuk memberi kabar bahwa saya sedang di perjalanan pulang ke Ciamis sekalian meminta doanya agar saya selamat di perjalanan. Alhamdulillah, benar saja. Saya bersyukur banyak yang mendoakan saya agar saya selamat di perjalanan. Beberapa puluh menit kemudian terjadi sesuatu pada bis yang saya tumpangi yang enggan saya sebutkan. Saya pun enggan pula menceritakan kronologis kejadiannya (bagi yang memang ingin tahu tanya langsung saja).

Tiba-tiba tangan saya tergerak untuk mengetik sms. Saya kirim sms itu ke Bella. Saya sempat terdiam sekitar satu jam, mengingat apa yang baru saja terjadi. Saya pejamkan mata saya karena tak kuasa melihat kondisi sekeliling saya. Rasanya baru kali itu saya merasa shocked sekali. Kepala, bahu dan kaki kiri saya memang terasa sakit sekali, tapi itu tak sebanding dengan rasa takjub saya, rasa bersyukur saya, rasa takut saya, rasa kaget saya akan apa yang baru saja terjadi. “Alhamdulillah ya Allah… Kau tunjukkan kebesaran-Mu, Kau limpahkan nikmat-Mu… Ampunilah hambamu ini yang lalai bersyukur, yang lalai akan nikmat umur, yang lalai untuk selalu mencari ridho Mu.”

Terdengar bunyi telepon. Ternyata ayah. Beliau menanyakan saya ada dimana. “Bis nya berhenti dulu ayah, agak lama sepertinya.” Saya tidak berbohong, karena bis nya memang akan berhenti dalam waktu yang memang lama. Lalu saya bangkit berjalan mencari bis lain dengan second power, “ayah, ibu dan zaki menunggu.”, kataku menyemangati diri. Di bis yang baru, tak hentinya saya memejamkan mata. Susah payah saya menenangkan diri, “Sebaik-baiknya penolong adalah Allah, mintalah pertolongan dan tak usah ragu padaNya. Bismillahi Ya Allah, Bismillahi maasyaa Allah, Laa yasuuqul khoiro ilallah, maasyaa Allah, laa yashrifussuu a ilallah, maa syaa Allah, wa maa bikum min ni’matin faminallah, maasyaa Allah, laa haula wa laa quwwata illaa billah..” Itu adalah doa meminta ketenangan hati yang diajarkan oleh ustad saya di Al Hadi.

Teringat akan tausiyah ustad saya di Al Hadi, beliau mengingatkan bahwa takut pada Allah harus sebenar-benarnya takut. Allah berfirman

“. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa (takut) kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati selain dalam keadaan beragama Islam”. (Qs Ali Imran-102).

Maka, jelas rasa takut yang amat sangat kepada Allah inilah yang akan melahirkan nilai keimanan dan ketaqwaan yang hakiki. Dzikrul maut sangat besar manfaatnya bagi kita, agar ada pengingat dan penegur diri dikala mulai terjerumus ke jalan yang salah dalam mengejar tujuan hidup. Pada keseluruhan tujuan dan tugas hiduplah inilah, setiap diri akan menemukan banyak godaan, rayuan, rintangan maupun halangan. Godaan pertama yang harus selalu diwaspadai datangnya dari golongan Iblis dan Syaitan, yang pada saat ini semakin banyak berbentuk manusia melalui tipuan, rayuan dan omong besarnya. Allah Swt menegaskan, ” Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati… (Qs Ali Imran-185). Karena itulah Rasulullah SAW. selalu mengingatkan.

“Perbanyaklah mengingat si penghancur kesenangan (maut). Karena maut itu pasti memisahkan seseorang dari apapun dan dari siapapun yang disenanginya, serta mencampakkan siapa saja kedalam lubang seukuran badan yang gelap gulita.”

“Bismillah ya Allah… Saya serahkan semuanya pada Mu.” Sekarang sudah saatnya saya bangkit, tidak ada lagi alasan untuk takut. Biarlah yang tadi berlalu menjadi sebuah catatan di hati untuk memperbaiki diri, sebagai anak panah untuk menunjukkan arah dalam setiap langkah. Teringat akan pernyataan sederhana dari seorang kakak, “Senyumlah, karena orang senyum tidak akan bisa marah atau sedih.” Saya suka sekali dengan kalimat itu. Sangat positif. Lalu saya buka mata saya dan tersenyum dengan senyuman terbaik yang bisa saya lakukan. Senyuman yang menurut saya “baru” di 11 Desember 2010 yang saya persembahkan untuk bertemu semangat baru saya.