Tags

,

Kecewa? Kesal? Sedih? Marah? Bingung? Sudah… Semua sudah berlalu. Mulai hari ini tinggalkan semua perasaan negatif yang ada pada dirimu (berlaku juga pada saya) karena bahagia adalah pilihan. Mengapa demikian? Karena sampai kapanpun kita tidak akan merasa bahagia dalam kondisi apapun jika kita tidak mengizinkan diri kita untuk berada dalam pilihan bahagia. Ini adalah pelajaran penting yang saya dapatkan ketika saya menghadapi awal tahun masehi yang cukup sulit, dan saya menyesal menyebutnya sulit. Kata “sulit” membuat saya semakin sulit dalam menghadapi masalah yang terasa bertubi-tubi menghadang langkah-langkah saya. Mulai detik ini mari kita belajar berkomitmen untuk tidak berteman dengan kata sulit.

Januari ini adalah bulan yang cukup hebat bagi saya (ingat, tidak ada lagi kata sulit dalam kamus). Banyak sekali hal yang cukup membuat hati saya hampir kehilangan energi positif. Saat itu saya sangat tidak mengerti, saya berusaha mengawali awal tahun ini dengan semangat yang sangat positif, tapi mengapa saya mendapati hal yang (saat itu saya pikir) kurang indah sebagai start awal bulan ini? Hal itu menjadi pertanyaan yang sangat berguna bagi saya dalam pencarian sebuah problem solving.

Saya yang berpikir sempit saat itu hanya bisa menggerutu pada keadaan yang tidak akan berubah tanpa langkah yang pasti. Saya merasa ada sesuatu yang tidak balance tapi entah apa itu. Dalam benak saya (sampai detik ini), saya yakin setiap energi positif yang saya lakukan akan menghantarkan energi positif pada diri saya. Ketika itu saya sama sekali tidak habis pikir, apa yang salah dengan langkah saya sehingga saya begitu seringnya menghadapi hal-hal luarbiasa (baca: masalah) yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan? Apakah apa yang saya anggap positif itu ternyata sebenarnya adalah hal yang negatif?

Tapi ternyata akhirnya saya mengerti. Tentu anda pernah ingat tentang hukum kekekalan energi bukan? Hukum yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan namun dapat diubah dan berubah ke dalam bentuk energi lain. Saya pikir ini cukup membuat pikiran saya terbuka dalam menyikapi apa yang saya alami saat itu. Jika saya analogikan kepada keadaan saya, berarti energi positif saya tetap berada dan menghantar kepada diri saya sendiri, hanya saja energi tersebut sedang berubah bentuk menjadi energi lain. Sekarang yang harus saya lakukan bagaimana caranya agar energi tersebut berubah lagi menjadi energi semula? Caranya adalah dengan tetap menjadi positif dan memandang bahwa energi tersebut tetap positif, tidak melihatnya sebagai suatu energi yang negatif (baca: masalah) seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh orang-orang disekitar kita yang banyak membuat kita pun terpengaruh untuk masuk ke lubang yang sama. Artinya, masalah yang harus saya hadapi saat itu bukanlah suatu hal yang bersifat negatif dan bukanlah satu alasan yang menyebabkan keraguan pada diri saya bahwa apa yang saya lakukan sebelumnya tidak benar-benar positif seperti yang saya yakini. Karena, energi positif saya sudah benar, dan masalah yang saya dapati pun merupakan hal yang positif. Jadi, salah besar ketika saya menganggapnya sebagai hal yang negatif. Inilah yang menyebabkan saya merasa ada yang tidak balance dengan apa yang saya alami.

Saya memang tidak ahli dalam hadist dan sebagainya, tapi saya pernah dengar satu kalimat indah yang membuat saya kembali bersemangat saat ini (semoga istiqomah semangatnya, amin). Tentu kalian juga pernah dengar tentang kalimat yang menyatakan bahwa Allah memang tahu apa yang kita inginkan, tetapi Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Ini membuat saya berpikir dua kali untuk kembali mengeluhkan masalah yang sedang saya hadapi. Kita memang terkadang bisa dengan mudahnya meluncurkan kata dari lisan kita bahwa semua masalah pasti ada hikmahnya. Padahal dalam praktiknya semua itu tidak semudah dari sekedar perkataan. Tapi, dengan kalimat “bahwa Allah tahu apa yang kita inginkan tetapi lebih tahu apa yang kita butuhkan” ini, membuat saya menjadi lebih mudah untuk mennyederhanakan pikiran saya untuk lebih positif dalam menyikapi masalah. Allah memang tahu apa yang kita inginkan, tetapi Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, oleh karena itu kita harus banyak bersyukur atas segala nikmat yang Allah beri, karena Allah tidak pernah memberikan kita sesuatu yang akan berujung menjadi suatu kesia-siaan.

Bicara tentang bersyukur, banyak sekali yang saya garis bawahi dalam masalah yang saya hadapi berkaitan dengan syukur. Ternyata memang benar, pandangan kita mempengaruhi sikap kita. Ketika kita memandang suatu masalah sebagai bentuk ujian, maka kita akan menyikapinya dengan banyak godaan berkeluh kesah (baca: energi negatif). Mengapa kita tidak mencoba untuk menyikapinya dengan hal yang lebih menyenangkan? Ternyata, ketika kita memandang masalah sebagai suatu pemberian yang khusus diberikan kepada kita dari Allah, Allah percaya bahwa memang kita lah yang mampu melakukannya. Tidak semua orang mendapatkan apa yang kita alami. Dan, setiap pemberian Allah itu adalah sebuah nikmat, jadi harus disyukuri. Terkadang kita lalai sekali mensyukuri nikmat Allah. Jangankan mensyukuri nikmat seperti apa yang baru saja dibahas, mensyukuri nikmat yang sudah sangat jelas pun kita seringkali lupa. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni kita semua, Allahumma amin.

Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita sampai-sampai kita tidak bisa menyadari semuanya. Subhanallah sekali bukan? Baiklah, setelah tadi kita menemukan satu cara menyikapi masalah, yaitu dengan berpikir positif, berarti sekarang bertambah satu lagi yaitu dengan bersyukur karena masalah bukan hal yang negatif dan merupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Jika kita rumuskan menjadi :

Cara mudah menghadapi masalah:

Berpandangan positif + mensyukuri nikmat yang Allah beri ———> masalah berubah menjadi berkah yang manfaat (insya Allah)

Sekali lagi, ayo tanamkan rumus ini baik-baik dalam mainset kita mulai sekarang. Karena, bahagia adalah pilihan.๐Ÿ™‚

SEMANGAT! Rahimakallah… ^_^