Tags

, ,

1.1.            Prosedur Kerja

Langkah Pertama:

  • Menyediakan 3 buah tabung reaksi A, B, dan C
  • Menuangkan 5 tetes darah yang telah dibebaskan dari fibrin
  • –  Tabung A ditambahkan 2 cc aquades

     –  Tabung B ditambahkan 2 cc larutan NaCL pekat (3%)

     –  Tabung C dibiarkan seperti semula

  • Menuangkan beberapa tetes dari setiap tabung A, B, C pada gelas objek
  • Memperhatikan pada cahaya tembus dengan dasar putih yang ada hurufnya
  • Membuat gambar tinjauan mikroskopiknya dari setiap objek A, B, dan C

Langkah Kedua :

  • Menambahkan 2 cc larutan NaCl (3%) pada tabung A
  • Menambahkan 2 cc aquades pada tabung B
  • a. Memperhatikan kedua larutan tersebut dari segi kesamaan sifat tembus cahayanya
  • b. Memeriksa keadaan kedua larutan tersebut dengan membuat preparat mikroskopik dari kedua tabung tersebut dan memperhatikan apakah darah tersebut berubah secara mikroskopik dan makroskopik

1.1.  Pembahasan

1) Langkah Pertama

Tabung A

             Pada tabung A, darah yang ditambahkan aquades mengalami hemolisis, karena aquades merupakan cairan hipotonis yang menyebabkan perbedaan konsentrasi dimana konsentrai darah lebih tinggi daripada konsentrasi aquades, sehingga beberapa cairan dari aquades masuk kedalam sel-sel darah merah tersebut sampai konsentrasinya seimbang akan tetapi membran atau lapisan yang dimiliki darah tidak kuat untuk menampung semua itu sehingga terjadilah Hemolisis (pecahnya sel darah merah). Darah yang diberi aquades terlihat memudar warna merahnya, karena hemoglobin keluar dari eritrositnya. Oleh karena itu, apabila darah tersebut diletakan diatas sebuah tulisan maka huruf tersebut akan terlihat jelas.

Tabung B

             Pada tabung B, darah yang ditambahkan NaCl 3% akan mengalami krenasi, karena NaCl 3% merupakan cairan hipertonis. Jika darah dicampurkan dengan cairan tersebut maka akan terjadi proses pengerutan (krenasi) yaitu proses dimana cairan dari sel darah merah akan keluar dari membran plasma yang selalu menyelimutinya karena pelarut di dalam sel darah merah akan keluar dari sel tersebut. Setelah pengamatan secara makroskopik telah kita lakukan terhadap darah yang kita kenai perlakuan seperti ini dan hasilnya tulisan yang dikenakan darah tersebut akan buram, tidak terlihat terlalu jelas, karena darah tidak pecah, hanya mengkerut sehingga darah tersebut masih mengandung Hb yang menghalangi cahaya yang tembus.

Tabung C

             Larutan NaCl yang memiliki konsentrasi 0,9% memiliki konsentrasi yang sama dengan sel darah atau isotonis, karena itu darah yang diberi larutan NaCl 0,9% tidak mengalami perubahan. Akan tetapi jika darah tersebut terlalu lama di diamkan maka darah tersebut akan membeku dan terbentuklah benang-benang fibrin yang akan membuat darah tersebut menjadi kental dan tidak dapat tembus cahaya, oleh karena itu tulisan tidak akan terbaca, terlihat sangat buram sekali.

1)   Langkah Kedua

Tabung A

Darah yang telah mengalami hemolisis atau pecah tidak dapat kembali seperti semula karena membran maupun inti selnya telah pecah, sehingga apabila diberikan larutan hipertonis atau NaCl 3% tidak akan terjadi perubahan.

Tabung B

Sel darah yang sebelumnya mengalami krenasi karena penambahan larutan NaCl 3 % atau larutan hipertonis, tidak mengalami kerusakan membran sel. Sehingga bila ditambahkan larutan hipertonis, sel darah akan kembali normal. Karena inti sel masih ada, sel darah masih hidup. Darah terbentuk dari beberapa unsur, yaitu plasma darah, sel darah merah, sel darah putih dam keping darah.

1.2.            Kesimpulan

Pada praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pada darah yang dicampur aquades, akan mengalami hemolisis sehingga hemoglobin keluar bebas dari eritrosit, tetapi tetap berada di sekitar membrane. Sedangkan Darah yang diberi larutan hipertonis yaitu NaCl 3 %, akan mengalami krenasi (mengkerutnya sel eritrosit).
  2. Pada darah yang mengalami hemolisis akan tembus cahaya (tulisan terlihat jelas ), sedangkan yang lainnya tidak.
  3. Pada darah yang telah mengalami hemolisis atau pecah tidak dapat kembali seperti semula karena membran maupun inti selnya telah pecah, sehingga apabila diberikan larutan hipertonis tidak berubah.
  4. Pada darah yang mengalami krenasi akan kembali ke bentuk normal atau isotonis ketika di beri larutan hipotonis karena membran dan inti selnya tidak pecah, hanya mengkerut saja.

 

*) by: Mutiara Maghfira C.–Faculty of Animal Husbandry UNPAD

(dengan berbagai penyaduran yang akan dicantumkan di postingan terkait nanti)

Diizinkan menyadur asalkan mencantumkan alamat blog ini