Tags

, , , ,

bahwa hakikat segala sesuatu yang berada di dunia itu memanglah tidak ada yang abadi, dan harta hanyalah satu dari sekian banyak titipan Allah untuk kita di dunia ini yang tentunya akan menjadi bagian pertangung jawaban kita kelak di akhirat dalam pemanfaatannya

Seminggu yang lalu Yara kehilangan helm yang Yara suka. Warnanya dominan pink, dibeli dengan uang milik Yara sendiri. Sebetulnya tidak terlalu penting untuk diungkit, karena insya Allah Yara sendiri tidak keberatan kehilangan helm tersebut. Mungkin memang cukup sampai hari itu helm tersebut bisa menemani Yara mengendarai motor. Rizki dari Allah tidak akan pernah tertukar.

Beberapa waktu lalu, Yara mendapat kabar bahwa kakak sepupu yara mendapat musibah. Beliau kehilangan handphone dan motor. Innalillahi, tentu saja Yara ikut prihatin dan berusaha memberi sedikit semangat meskipun yara tahu beliau pasti akan bijaksana menyikapinya. Yara jadi teringat akan Ka Hana, yang membuat yara kagum akan ketenangannya ketika menghadapi kejadian seperti itu dengan berkata “tidak apa-apa Yara, insya Allah ridho. Harta itu jangan disimpan di hati, tapi cukup simpanlah di tangan agar ketika kehilangan kita tidak merusak hati kita.” Bagi yara kata-kata ka Hana sangat memberikan pelajaran lebih mengenai makna bahwa hakikat segala sesuatu yang berada di dunia itu memanglah tidak ada yang abadi, dan harta hanyalah satu dari sekian banyak titipan Allah untuk kita di dunia ini yang tentunya akan menjadi bagian pertangung jawaban kita kelak di akhirat dalam pemanfaatannya.

Ada sebuah kisah menarik yang guru yara pernah berikan dulu berkaitan dengan hal ini. Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.

Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan peka dalam mengambil sisi positif dari setiap hal yang kita alami. Agar kita menjadi seseorang yang selalu pandai bersyukur atas segala yang Allah kehendaki dan Allah beri. Semoga berbagai cerita tadi bisa kita ambil hikmahnya, lebih dari apa yang bisa yara sampaikan. Semangat semuanya…🙂