A:”Kalau sudah besar, ingin jadi apa?”
B:”Dokter…!”
C:”Pilot!”

Tentu semua orang tidak asing dengan percakapan seperti diatas. Hampir setiap orang pernah mengalaminya di masa kecilnya, termasuk saya tentunya. Tidak hanya satu atau dua orang yang bertanya demikian pada saya, tapi hampir semua orang dewasa yang saya kenal kala itu menanyakan hal tersebut. Sekarang, saya baru tahu bagaimana rasanya berganti menjadi orang yang menanyakan pertanyaan tersebut. Satu kata: “Ajaib”!.

Ya, ajaib. Entah mengapa, kerap kali saya merasa semangat, bahagia, dan bangga setiap saya menanyakan hal tersebut pada anak kecil yang saya kenal atau saya temui. Mereka selalu melontarkan jawaban mengenai cita-citanya dengan penuh semangat dan penuh percaya diri, meski sebetulnya mereka belum terlalu paham. Sorot mata yang mantap membuat diri mereka begitu istimewa pada setiap penggal kata yang mereka lontarkan. Mereka, menghantarkan energi positif yang berbeda pada setiap jawaban.

Ada kejadian menarik yang saya dapati sore ini. TPA Al Huda, tempat saya bergabung untuk belajar menjadi seorang pengajar, mengadakan acara buka puasa bersama para santri dan seluruh pengajar. Acara ini begitu spesial dan berarti bagi para pengajar di TPA Al Huda, karena berkumpul dengan para santri artinya adalah mendapatkan semangat dan kebahagiaan yang tak ternilai. Tak hanya acaranya, persiapannyapun begitu istimewa. Para pengajar berbagi tugas untuk menjamu para santri dan undangan. Pengajar ikhwan (laki-laki) menjaga dan membimbing santri hingga waktu berbuka tiba, dan pengajar akhwat (perempuan) bekerja sama membuat berbagai hidangan untuk acara berbuka. Santri-santri akhwat pun tak mau kalah membantu pengajar akhwat menyiapkan hidangan untuk acara buka puasa bersama. Bahagia sekali berkumpul dan bekerjasama dengan para pengajar dan santri akhwat. Banyak cerita, canda, tawa, dan doa yang mengiringi interaksi para pengajar dan santri akhwat saat menyiapkan hidangan tersebut. Celotehan para santri begitu menggemaskan, membuat saya terpikat dengan kepolosan mereka. Saya pun kembali tergoda menanyakan cita-cita mereka, namun Teh Fani (pengajar akhwat) lebih dulu bertanya, dan saya sangat tertarik menyimak pembicaraan teh fani dengan salah satu santri. “Nanti, kalau udah gede Nisa mau jadi apa?” Teh Fani bertanya dengan penuh selidik. “Mau jadi PNS!” Jawab Nisa dengan mantap. Saya tercengang mendengar jawaban Nisa, salah satu santri cerdas yang ada di TPA Al Huda (dan semua santri memang cerdas), begitu juga Teh Fani yang tak kalah kaget mendengar jawaban Nisa. Jawaban yang sangat tidak umum untuk anak seumuran nisa. Apa memang sekarang ini jawaban tersebut sudah menjadi umum bagi anak seumuran Nisa? Wallahu’alam… Yang pasti, saya semakin penasaran untuk mencari tahu bagaimana jawaban anak-anak lain yang belum sempat saya tanya. Sepertinya saya yakin bahwa saya akan mendapatkan pengalaman ajaib lainnya!^^