Wonderful afternoon. Alhamdulillah.

Di Sore yang indah ini mood saya sedang sangat baik. Saking indahnya, saya sampai sulit melepas Lady (my netbook’s name) untuk berhenti menemani saya menyambangi blog demi blog yang seru untuk dibaca. Namun, jalan-jalan sore saya di blog terhenti ketika saya mengunjugi blog adik kelas saya ketika di SMA dulu. Rizqi Cahya namanya.

Ketika saya membuka blog nya, melihat postingan demi postingan , dan sampai di postingan terakhir halaman pertamanya, tiba-tiba mata saya mulai perih. Perih sekali. Hati saya mulai sakit, sedih. Rasanya seperti ketika kamu merindukan saudaramu yang lama sekali tak jumpa denganmu, lalu saat kau mulai mencarinya, dia menghampirimu dengan berita duka.

Ini dia postingan adik kelas saya tersebut.

I Love You .. More Than Ever . .

Kehilangan memang baru terasa di saat sesuatu memang tak akan lagi kembali ..

Rasa sayang yang sebenarnya akan muncul di saat seseorang yang kita sayangi sudah tak berada di sisi kita ..

Rasa rindu akan memuncak di saat yang terkasih hanya bisa terbayang di angan-angan belaka ..

Semua akan terasa begitu indah , jika semua kesalahan bisa terhapus dan digantikan oleh kenangan yang tak terlupakan . .

Sahabatku tersayang . . .

Hanya lantunan doa lirih yang bisa ku persembahkan untukmu ..

Biarlah tetesan air mata yang mengalir membawa sejuta doa dan cintaku untukmu ..

Aku di sini , akan selalu mencintaimu ..

Menyayangimu lebih , lebih dari saat kita masih tersenyum dan tertawa bersama ..

Jadikanlah cintaku padamu sebagai jalanku untuk belajar mencintai-Nya , dzat yang Maha Kuat dan Maha Lembut ..

Karena-Nya-lah ,, aku mengerti apa arti dari seorang sahabat dan indahnya mencintai dengan tulus , ikhlas karena-Mu . .

Dalam photo di postingan Rizky, keduanya adalah adik yang saya sayangi. Dari kiri ke kanan, Rizky dan Winny, mereka bersahabat, dan mereka memiliki banyak sahabat. Saya merindukan mereka, terutama Winny. Saya rindu, rindu, rindu sekali. Rindu celotehannya, rindu candaannya, rindu ceritanya, rindu tangisannya, rindu, rindu dan rindu.
Winny, telah kembali kepada Yang Maha Memiliki. Pergi, ketika saya sedang berlibur di Samarinda tahun 2010 lalu (saat saya sudah menyelesaikan UN), ketika dia sedang dalam perjalanan menuntut ilmu agama.
Hari itu, adik-adik saya menelepon saya dari Tasikmalaya, dengan berbagai isak tangis (yang membuat saya sangat terkejut), mengabari berita yang sangat memilukan hati dan membuat napas saya tertahan beberapa saat. “U.. Ummii.. mii.. Winny.. Winny kecelakaan dan baru saja meninggal.” Saya tidak tahu bagaimana rasanya disambar petir, tapi saya kira itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan betapa sangat terkejutnya saya mendapati adik saya mengabari hal tersebut.
Sesak sekali! Seolah tiba-tiba saya lupa bagaimana caranya bernapas. Tak terasa air mata saya pun meleleh tanpa bisa saya tahan. Saya sempat berharap, itu tidak nyata. Adik saya terus menangis dari radius berjuta kilometer dari tempat saya berpijak. Saya kehabisan kata dan suara untuk merespon kalimat yang adik saya lontarkan.
Saya sangat menyayangi mereka, Winny, adik-adik saya di SMA. Saya merasa sangat kehilangan. Saya yakin, tidak hanya saya ataupun Rizky, dan semua sahabat, apalagi keluarganya, yang merasa kehilangan atas kepergian anak manis itu. Karena Winny, memiliki banyak orang disekelilingnya yang sangat menyayanginya.
Saya tahu, tidak seharusnya saya mengenang rasa kehilangan seperti ini. Orang lain, mungkin bisa berkata “Sudah, yang sabar yah. Yang bisa kita lakukan sekarang bukan merasa kehilangan, tapi mendoakan mereka yang telah pergi.”. Saya juga mungkin akan berkata demikian, namun, nyatanya tidak semudah yang bisa diucapkan. Percayalah, sangat tidak mudah.🙂 Meski tak mudah, namun harus tetap dilalui. Karena hidup, bukan untuk menangisi sebuah kehilangan. Dan dunia akan terus berputar tanpa harus menunggu kita selesai menangis.
Winny, tetap ada di hati saya, sebagai salah satu adik saya yang manis, yang saya sayangi. Semoga Allah menerima seluruh amal kebaikanmu, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu menjalani kehidupan yang sebenarnya. Allhumma amin.