Tags

, , , , , , , , ,

Pernah dengar ungkapan “jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” ? Saya yakin jawabannya adalah “ya”, karena ungkapan tersebut rasanya sudah sangat terkenal. Awalnya, saya pun cukup menyukai ungkapan tersebut karena menganggap bahwa hal tersebut cukup masuk akal. Namun, ternyata apa yang saya anggap cukup masuk akal justru bisa membahayakan saya sendiri (termasuk kalian yang beranggapan hal yang sama dengan yara tentang ungkapan tersebut).

Kenapa? Karena, ketika saya menganggap hal tersebut adalah benar (dan terjerumus menanamkan lebih dalam lagi dalam hati saya), bisa saja saya mengambil ilmu atau belajar dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi. Karena, yang benar adalah kita mengambil ilmu dari orang yang lurus manhajnya yaitu dari ahlus sunnah wal jama’ah, bukan dari sembarang orang, apalagi ahli bid’ah.

Al-Imam Ibnu Sirin mengatakan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahiih Muslim)

Beliau juga mengatakan: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) pada awalnya tidaklah menanyakan tentang sanad hadits. Maka ketika terjadi fitnah (munculnya berbagai firqah sesat seperti Khawarij, Syi’ah-Rafidhah dan lainnya), mereka berkata: “Sebutkan kepada kami sanad kalian. Maka dilihat apabila datang dari ahlus sunnah maka diterima haditsnya dan apabila datang dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya.” (Ibid.)

Tidakkah kita takut terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan akibat mengambil ilmu dari siapa saja? Hendaklah kita lebih berhati-hati dan waspada dalam mengambil ilmu karena ilmu ini adalah agama yang akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah di hari kiamat nanti.

Di samping itu, kalau kita mengambil ilmu dari ahli bid’ah maka hati kita akan condong kepadanya sehingga mentolerir kesalahan dan penyimpangannya yang akhirnya lambat laun kita mengikutinya secara sempurna, yang pada awalnya kita hanya ingin mengambil kebaikannya saja, nas`alullaahas salaamah.

Berhati-hatilah dalam mengambil ilmu, mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahul Muwaffiq.

note:

– Terimakasih kepada ustadz yang telah memberikan ilmunya, atas kebaikannya, penulis ucapkan Fa jazahallahu khairan.. amin..

sumber: http://www.darussalaf.or.id