Alhamdulillah… Aku bersyukur sekali, sejak semester 1 aku mencoba untuk memberikan les private bagi siswa hingga sekarang (semester 3) akhirnya bergabung menjadi tim pengajar sebuah smp, aku selalu mendapati murid-murid yang semangat belajar, aktif, ceria dan hangat. Aku yakin, mereka yang pernah mengalami hal ini akan sepakat bahwa terlibat perasaan bahagia karena berada dalam situasi kelas belajar yang demikian sungguh akan membuatmu kecanduan.

Dua hari yang lalu, aku memberikan pelajaran tambahan bagi murid-murid SMP Muhammadiyah Jatinangor seperti biasa. Saat aku masuk kelas, mereka memberikan senyum dan celotehan semangatnya seperti biasa juga. Tak ada yang berbeda sedikitpun dari mereka. Mereka sangat semangat untuk belajar denganku. Mereka merespon materi yang kuberikan dengan sangat aktif! Saking aktifnya, pada beberapa menit tertentu aku sampai kebingungan merespon mereka satu persatu. Pernah berada dalam situasi dimana kamu berada dalam keadaan yang sangat bising yang sangat memekakkan telingamu dan semua suara itu tertuju padamu? Ya, begitulah suasananya dan aku nyaris lupa mengendalikan kondisi mereka untuk kembali kondusif saat bertanya hal-hal yang mereka tidak pahami.

Sayang sekali, nampaknya aku “kecolongan” karena kalah cepat untuk membuat suasana kelas menjadi kembali kondusif. Seorang murid memberikan ungkapan protesnya kepadaku. “Bu, kenapa ibu tidak mau mendengarkan saya saat memanggil ibu, padahal saya ingin bertanya sejak tadi? Ibu pasti lebih senang kalau mereka (murid-murid lain) yang bertanya!” Hemmhh… *mengehelanapas*. Itulah ungkapan protes dari satu muridku. Aku tahu, anak yang baru saja memberi sebuah protes terhadapku itu memang cukup manja dalam pandanganku. namun, tadi pastilah aku yang salah sehingga tidak maksimal mengendalikan kondisi kelas yang ramai.

Dulu, ketika aku duduk di bangku SMA, aku pernah berada di posisi yang sama persis dengan muridku yang memberikan protesnya kepadaku. Ya, aku pernah kecewa (walaupun hanya sebentar) pada guruku, saat beliau memberikan soal rebutan dan aku berusaha dengan cepat mengangkat tangan untuk menjawab setiap pertanyaan yang beliau lontarkan, namun nyatanya aku tidak mendapatkan kesempatan menjawab satupun karena beliau tidak menunjukku untuk menjawab sama sekali. Aku sangat kecewa, tapi aku bersyukur tidak pernah mengungkapkan rasa kecewaku kepada beliau sama sekali. Karena, nyatanya kali ini aku mendapati berada di posisi yang serupa dengan beliau kala itu. Sekarang aku mengerti bagaimana menjadi guru itu sangat “tidak sederhana”. Semoga Allah mengampuniku karena pernah kecewa pada guruku yang baik hati tanpa mencoba berpikir dengan lebih bijak lagi. Amin.

Aku tidak pernah bermimpi sedikitpun akan mengambil langkah untuk belajar mengajar dengan menjadi seorang guru. Yah.. Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa ini benar-benar menjadi candu bagiku dan aku sangat menikmati aktivitas ini. Aku belajar banyak hal dari aktivitas mengajarku, dan aku jadi semakin menyayangi mereka (guru-guruku) yang telah sabar mengajari banyak hal kepadaku. Semoga apa yang kujalani sekarang, menjadi proses positif bagiku dalam mencapai mimpiku untuk memiliki yayasan pendidikan yang berkontribusi positif dalam peningkatan dunia pendidikan di Indonesia. Amin.