Ini adalah catatanku, 25 Februari, 2010.

“Halo anak ayah…” Kata ayah kepadaku setiap kali menelepon. Ke tiga kata pertama itu adalah bagian dari kalimat yang selalu ayah katakan pertama kali dalam setiap kesempatan kita berbincang lewat telepon, dan aku selalu menjawab “Halo ayahnya kaka…” . Rasanya sungguh bahagia setiap mendengar suara ayah dan tiga kata pertama itu. Setiap kata tersebut terucap dari ayah, aku tahu bahwa yang berucap bukan hanya lisan, tapi juga hati. Karena, setiap aku mendengarnya, hatiku seperti mendapat suntikan kebahagiaan yang membuatku semakin sayang pada ayah. Sayang sekali. Sangat.

Ayahku istimewa. Romantis adalah kata yang tepat yang bisa menggambarkan sisi istimewanya. Tadinya akupun tak mengerti sama sekali apa makna dari sebuah kata romantis. Ibu yang mengajariku kalimat itu, karena ketika aku kecil ibu selalu bercerita tentang tindakan ayah yang selalu membuat ibu bahagia dan berkata bahwa ayah adalah lelaki istimewa yang romantis. Aku bangga sekali memiliki ayah yang romantis yang selalu membuat ibuku memiliki cerita bahagia untukku. Dan aku suka seseorang yang romantis.

Tegas juga bagian dari sikap ayah. Ayah selalu tegas dalam setiap keadaan, bahkan juga terkesan keras. Meskipun keras dan tegas, tapi hati ayah sangat lembut. Bagiku, sekeras apapun ayah, ayah tetap ayah yang lembut dan penyayang. Karena rasa sayangku yang kuat, aku selalu punya cara untuk berkomunikasi yang baik. Dari sikap ayah ini, aku pun belajar banyak hal untuk berkomunikasi dengan banyak orang dari segala kalangan. Sebut saja diplomasi. Ayah memiliki kemampuan yang baik dalam mengemukakan pendapat yang diplomatis. Tak heran banyak orang yang percaya pada ayah karena kemampuannya dalam berdiplomasi. Selain itu, ayah juga orang yang sangat menjunjung tinggi nilai sebuah kejujuran, sangat bertanggung jawab, tepat waktu, dan konsekuen.

Mau tahu satu hal lagi yang sangat membuatku kagum? Ayah selalu percaya kepadaku. Tidak hanya kepadaku, tapi juga kepada adikku yang sangat ku sayang. Ayah dan ibu mengajariku arti sebuah kepercayaan. Sejak kecil mereka selalu menanamkan sebuah mind set positif bahwa mereka percaya kepadaku. Aku merasa demikian bukan karena sebuah kalimat yang berulang mereka katakan, tapi karena mereka selalu mendukung apapun yang aku lakukan. Ayah selalu bilang, “ayah yakin kaka bisa”. Begitu dahsyat kata yakin yang ayah lontarkan tersebut membekas di hatiku karena hatiku menterjemahkannya menjadi kata indah yang penuh makna,”percaya”. Menurutku, cara ayah ini sungguh luar biasa. Karena kepercayaan ayah membuatku belajar arti dari menjaga sebuah “kepercayaan”. Sehingga sejak kecil aku sellau berusaha untuk tidak mengecewakan ayah dan ibu. Ayah dan ibu juga selalu punya cara yang hebat untuk memberi sebuah saran. Ayah dan ibu tidak pernah menuntut. Melarang pun bukan bahasa mereka. Saran adalah tindakan terbaik yang mereka terapkan. Sehingga aku tahu, bahwa sebenarnya ayah dan ibu mengajariku untuk terbuka ketika mendengarkan sebuah pendapat atau keinginan, agar kita belajar menjadi lebih bijaksana.

Masih banyak lagi keistimewaan ayah… Yang pasti, saat ini aku sedang rindu mendengar tiga kata pertama yang sangat familiar di telingaku…

“Halo anak ayah…”

———-

Dan aku semakin tak kuasa menahan rinduku pada ayah.. ayah dan ibu.