Rasanya hati ini pilu sekali ketika membaca sebuah puisi seorang Teman di sebuah jejaring sosial yang kerap saya sapa Mba Mukti…

JEMBATAN HATI rasanya belum lama aku menggendongmu atau menuntun tangan kecilmu belajar melangkah satu-satu tak terasa kini kau tumbuh sebagai remaja putri sering mengajakku berbisik bicara dari hati ke hati maka, dering telponmu tiap minggu adalah penantian panjangku mendengarkan celotehmu menyesap gelak tawamu juga menyimak lirih isakmu menahan sesaknya dada betapa kau makin dewasa kau sering berkata ingin jadi penulis, seperti ibu ingin punya banyak teman, seperti ibu lalu di akhir telepon, selalu kau ucapkan: “I love u, buu” membuatku tersenyum, haru “I love u too anakku, so much…” maka, tak sabar kutunggu matahari sore beranjak pergi untuk mendekapmu sepenuh rindu … seminggu🙂

Saya sangat tersentuh dengan puisi ini. Bagi saya, puisi ini begitu tulus mengungkapkan perasaan Mba Mukti sebagai seorang ibu. Saya sangat tersentuh, sangat, ketika saya membayangkan hal serupa pada mba Mukti yang mungkin ibu saya rasakan…

Ibu, jika kau merindukanku, percayalah… Aku pun merindukanmu… Selalu… Aku mencintaimu, ibu.