Tags

, , , , , , ,

Macet. Saya kira hampir semua orang paham betul bagaimana rasanya terjebak dalam keadaan terhentinya alur lalu-lalang kondisi jalan raya yang super padat karena macet. Mungkin ada yang menyikapi dengan sabar, kesal, marah, santai, tenang, ceria, sedih, dan semua bisa saja terjadi.

Sudah dua hari ini saya mengalami macet yang saya bilang : “luar biasa”. Tanggal 16 Juni 2012 lalu, saya pergi ke Ciamis dari Jatinangor untuk memenuhi beberapa agenda saya. Dengan kondisi dimana saya baru tidur selama 2,5 jam sebelum berangkat karena sudah 3 hari saya sulit tidur karena rasa sakit kepala yang saya alami, qodarullah (tekanan darah sedang drop, 80/50).

Kasus Pertama

Awalnya, saya merencanakan akan berangkat pukul 5.00 WIB, namun qodarullah saya baru sanggup berangkat pukul 8.30 pagi dengan perkiraan saya akan sampai di lokasi (untuk memenuhi janji saya pada tim pencitraan Fakultas Peternakan) maksimal pukul 12.00 siang. Nyatanya??? Perjalanan saya terhambat karena macet dan saya baru sampai di lokasi pukul 13.00 di lokasi acara. Selama perjalanan, saya sama sekali tidak bisa tidur seperti biasanya. Kepala saya sakit, cuaca di luar sangat panas dan terasa sekali ke dalam bis karena saya terpaksa naik bis kelas ekonomi (baca: tanpa AC) untuk menyegerakan keberangkatan, asap rokok penumpang lain (sekitar 8 penumpang yang merokok) sungguh seolah berusaha mengganggu jatah oksigen saya (dan saya juga menghawatirkan kain pakaian saya akan menyerap bau tembakau bakar itu dengan sangat baik). Intinya, saya sangat kesal dengan semua keadaan yang saya alami saat itu. Utamanya karena saya sedang mengejar waktu yang telah saya sepakati dengan dosen-dosen saya. Saya berusaha mengalihkan perhatian saya dengan mengingat hapalan surat yang akan diujikan 2 minggu lagi sembari memejamkan mata, berusaha agar bisa tertidur dalam keadaan yang “jujur” saat itu membuat saya sangat muak.

Kasus Kedua

Hari ini, 17 Juni 2012, adalah agenda saya untuk pulang ke Jatinangor. Belajar dari pengalaman kemarin, saya memperkirakan hari ini saya akan mendapati “lagi” kondisi jalan yang macet. Tapi saya menjalani hari ini dengan perasaan bahagia dan bersyukur sejak saya bangun tidur. Alhamdulillah saya bisa tidur dengan sangat nyenyak di rumah saya, kampung halaman saya (setelah 3 hari saya hanya tertidur beberapa jam). Paginya sekitar pukul 6.00 saya ke Pasar terdekat, masak, memandikan nenek saya, menyuapi nenek yang sangat lahap menghabiskan sarapannya, berbincang dengan Intan (sepupu saya), dan masih banyak lagi hingga akhirnya saya berangkat kira-kira pukul 10.00 pagi.

Seperti yang saya perkirakan sebelumnya, jalan raya yang saya lalui macet sekali. Bahkan lebih macet dari hari sebelumnya. Saya menghabiskan waktu 5,5 jam untuk perjalanan dari Ciamis menuju Jatinangor. Lalu? Kali ini saya sama sekali tidak merasa kesal, muak, marah seperti perjalanan kemarin. Kenapa? Karena akhirnya saya menyadari hal yang seharusnya saya sadari sejak dulu dalam keadaan yang sama seperti ini.

Saya baru sadar, saya selalu saja kesal saat berada dalam kondisi kemacetan hanya jika saya sedang dalam keadaan terburu-buru.

Kenapa saya bilang “saya baru sadar”? Ya, karena saya baru ingat bahwa saya sering mengalami kondisi macet di jalan raya, tapi saya tidak pernah menyesalinya sebelumnya. Tadi, saat di Bis, saya membayangkan apa yang biasa saya lakukan jika saya sedang mengendarai motor dalam kemacetan seperti ini. Kalian pasti tahu jawabannya kan? Sebagaimana pengendara motor lainnya, saya akan fokus mencari peluang untuk terus bergerak maju semacet apapun kondisi jalanan.

Lalu, bagaimana dengan posisi saya yang notabene sebagai penumpang bis? Saya tidak punya peluang untuk bergerak maju meninggalkan kemacetan bukan? Jawabannya adalah, “tentu saja punya!”. Hanya saja, peluang saya sebagai penumpang bis tidak sama dengan pengendara motor. Wajar, karena kita pun sudah lama tahu bahwa setiap kondisi pasti akan berbeda resiko dan peluangnya bukan?

Macet = waktu yang seharusnya sudah menjadi bagian prediksi perjalanan

Lalu, apa peluang para penumpang seperti saya untuk menghindari kemacetan? Peluangnya adalah, matang dalam perencanaan dan bergerak lebih cepat saat mulai merealisasikan rencana keberangkatan. Ini yang tidak saya lakukan dengan matang saat saya terburu-buru. Seharusnya saya selalu menambah 1 atau 2 jam tambahan perkiraan lama perjalanan untuk keadaan macet tak terduga. Jangan lupa disesuaikan juga dengan hari keberangkatan (menyesuaikan dengan event yang dekat dengan hari keberangkatan). Ketika saya menambah waktu perkiraan tambahan saat merencanakan, tentu meskipun saya terburu-buru, Insya Allah saya akan tepat waktu dengan waktu tambahan yang saya canangkan sebelumnya bukan?

Ketika macet, sabar atau kesal?

Saya tahu, umumnya orang banyak merasa kata sabar itu sangat teoritis dan sulit diaplikasikan. Bahkan beberapa orang mungkin saat terkena musibah lalu mendengar nasihat untuk bersabar dari temannya, rasanya ingin sekali berkata “mengucapkan sabar itu mudah, karena anda tidak merasakan apa yang saya rasakan”. Oke, kembali lagi ke topik “macet”. Saat macet, pilihan sikap kita, saya kerucutkan menjadi 2 : sabar, atau kesal. Apa yang seharusnya menjadi sikap kita? Tentu saja sabar. Dan jika pertanyaan ini ada dalam soal ujian PPKN siswa Sekolah Dasar pun mereka akan dengan tepat menjawab “sabar”. Mengapa? Tentu anda pun tahu alasan mengapa harus bersabar bukan? Saya hanya akan memberikan saran jika ada yang bertanya “bagaimana?”.

Syarat menggunakan fasilitas negara adalah berempati

Bagaimana caranya agar kita bisa mulai bersabar dalam kondisi jalanan yang macet dengan aktivitas kita yang padat? Mengenai aktivitas yang padat dari masing-masing orang, saya pikir solusinya hanya 1, manajemen perencanaan waktu yang matang seperti yang saya jelaskan tadi. Untuk cara bersabar, kita harus memiliki rasa empati. Ya! Empati ini penting loh! Jangan sepelekan rasa empati ini saat berada di jalan raya, baik sedang mengendarai kendaraan atau sedang menjadi penumpang.

Saya paham bagaimana rasanya ketika sedang kesal berada dalam kondisi jalanan yang macet. Saya juga paham rasanya bertanya-tanya tentang apa yang menyebabkan kemacetan dalam perjalanan yang sedang dialami hingga akhirnya menghambat aktivitas. Tentu saja jika kita mementingkan kebutuhan kita, kita akan sangat jauh dari rasa empati, seolah sang penyebab kemacetan adalah biang kerok yang menyebalkan.

Tapi coba anda bayangkan, apa yang akan terjadi jika anda adalah orang yang menyebabkan kemacetan di lalu lintas? Tentu anda sendiri pun tidak pernah menginginkan menjadi penyebabnya bukan? Ya. Begitu juga dengan mereka-mereka yang tertimpa musibah di jalan raya, yang menjadi penyebab kemacetan banyak kendaraan yang sedang menggunakan fasilitas negara yang satu ini (baca: jalan raya).

Jalan raya adalah fasilitas negara yang digunakan oleh seluruh penduduk yang berada di negara tersebut. Semua orang memiliki hak yang sama dalam penggunaan fasilitas tersebut. Artinya, jika kita mendapatkan hak, maka kita tidak lepas dengan kewajiban yang harus kita penuhi sebagai pengguna jalan. Dan salah satu kewajiban tak tertulis dalam penggunaan jalan raya adalah “empati”. Saya yakin, insya Allah jika kita semua memiliki rasa empati dalam menggunakan jalan raya, penggunaan jalan raya akan semakin tertata dengan baik. Dan macet, bukan lagi masalah yang pelik dan tak kunjung tertuntaskan dalam lalu lintas darat negara.

Oke! Begitulah kira-kira kesimpulan yang saya dapatkan setelah 5,5 jam menjalani siang hari di jalan raya yang sangat macet. Terus semangat untuk merubah kebiasaan menjadi lebih baik, yuk!🙂