Izin reblog ya um. . . Jazakillahu khairan

Taman Faidah

perjalanan

Oleh Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini

Teringat peristiwa beberapa tahun silam, ketika jasad ayah tergeletak tak berdaya. Kedua matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka. Ia terbujur kaku diatas pembaringan. Tiada tawa. Namun tatapan mata-mata kosong penuh iba dan isak tangis kesedihan terdengar dari sudut-sudut bilik rumah sakit.

Ibu terbenam dalam diam, sembari mengusap sudut-sudut matanya yang tiada henti melelehkan air mata. Abang, walaupun berusaha tampak tegar meredam duka,  namun air mukanya tak bisa menyembunyikan isi hati yang memang begitu terhenyak atas kematian mendadak ayah tercinta.

“Bersabarlah wahai Jiwa! Ini sudah takdir Allah. Bukankah anak manusia adalah pinjaman dari Allah?”

“Ajal itu bukanlah urusan manusia. Jika seseorang telah datang ajalnya, maka tiada ada yang mampu menahan.”
“Semoga saja diampuni dosa-dosanya, dimasukkan dalam Jannah-Nya. aamiin.”

Anak manusia itu telah tiada. Padahal kemaren segar bugar bertenaga. Berjalan, berlalri, naik turun berputar-putar mengisi dunia yang penuh sandiwara. Itulah anak Adam.  Dahulu, ia tidak pernah…

View original post 1,639 more words