Tags

, , , , ,

Dalam dunia peternakan, pengendalian penyakit sangat penting dilakukan karena ternak yang sakit menjadi salah satu kendala yang serig terjadi dalam produksi ternak. Contohnya adalah penyakit infeksi yang sering diakibatkan mikroorganisme yang bersifat patogen. Dalam pemeriksaan penyakit infeksi, biasanya dilakukan pemeriksaan fisik dan anamnese guna menemukan etiologi penyakit. Cara lain dalam menegakkan diagnosa guna menemukan mikroorganisme apa yang menjadi penyebab suatu penyakit adalah dengan cara pemeriksaan spesimen. Oleh karena itu baik petugas kesehatan maupun peternak harus mengetahui dan memahami betul cara pengelolaan spesimen klinik.

Dalam pengelolaan spesimen, yang harus diperhatikan adalah cara pengambilan spesimen, cara penyimpanan dan pengiriman spesimen tersebut. Tujuan dari pemahaman cara pengelolaan spesimen tersebut adalah agar spesimen dapat memberikan hasil yang akurat dalam pemeriksaan secara makroskopis/mikroskopis dan spesimen tidak rusak dalam rentang waktu pengiriman ke laboratorium.

Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium yang baik haruslah memiliki setandar nasional dalam pengoprasianya, contohnya yaitu GLP yang merupakan laboratorium bersetandar nasional. Biasanya fasilitas yang dimiliki yaitu : Keamanan LEB, Pengaturan oprasional, Animal care, Animal supplies dll.

Laboratorium dalam hal ini digunakan utuk pemerisaan spesimen. Sepesimen merupakan segala macam benda apa saja yang dianggap tercemar oleh suatu penyakit hewan atau jasad renik penyebab penyakit hewan termasuk bagian-bagian tubuh hewan atau berupa hewannya sendiri yang mati, sakit atau tersangka sakit perlu dikirim secara cepat dengan memperhatikan ketentuan yang diperlukan. Manfaat pengiriman spesimen pada lembaga yang secara profesional berwenang misalnya Balitvet, BPPH atau laboratorium di beberapa perguruan tinggi tidak hanya berarti terhadap diagnosa penyekit itu sendiri namun juga untuk pengendalian penyakit secara lebih luas misalnya dalam ruang lingkup epidemiologi.

Dasar pengumpulan spesimen adalah, jenis spesimen yang dikirim tergantung pada jenis penyakit sehingga organ yang dikirim juga spesifik khususnya organ atau jaringan yang secara klinis mengalami perubahan, spesimen dikirim dalam keadaan aseptik menggunakan bahan yang ditetapkan sesuai prosedur atau peralatan yang telah dicuci, dikeringkan dan disterilisasi, botol diberi diberi identitas yang jelas dan teknis pemeriksaan apa yang diinginkan, botol spesimen disimpan dalam termos es dan selama proses pengambilan spesimen lakukan secara hati-hati khususnya terhadap pencemaran.

Ada beberapa yang mempengaruhi seleksi pengiriman spesimen daintaranya yaitu: waktu, peralatan, teknik, transportasi, dantidak kalah penting adanya form/ dokumen sepesimen. Pada prinsipnya bahan yang diperlukan, cara pengepakan, dan metode yang dikehendaki harus disesuaikan dengan apakah spesimen tersebut untuk diperiksa secara bakteriologik, virologik, mikologik, parasitologik, toksikologik, serologik dan pemeriksaan histopatologik. Penyakit dan organ yang terserang biasanya spesifik oleh karenanya pengiriman spesimen harus memperhatikan gejala klinis penyakit dan jenis spesimen serta pengawetan yang digunakan.

Ada beberapa pengujian dalam spesimen diataranya adalah:
1. Uji Natif
Merupakan uji sederhana, yang perbandingan nya 1 : 10 feses dan air, kemudian setelah homogen diambil beberapa tetes pada preparat lalu diamati dibawah mikroskop.
2. Uji Sedimentasi
Merupakan uji yang menggunakan endapan dari hasil pengenceran spesimennya untuk diamati di bawah mikroskop.
3. Uji Apung
Merupakan uji yang menggunakan NaCl dan feses yang diaduk sampai homogen, disaring, lalu disentrifus dengan kecepatan 1500rpm selama kurang lebih 5 menit hingga akhirnya diamati dibawah mikroskop.

Artikel ini disadur dari:

http://diary-veteriner.blogspot.com/2011/09/uji-natif-spesimen.html (diakses pada 1 April 2012 pukul 10.10 WIB )
http://veterinermuda.blogspot.com/2009/10/cacingan-spesimen.html (diakses pada 1 April 2012 pukul 11.00 WIB )

Review ini ditulis oleh :

Mutiara Maghfira Chairunnissa, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran ‘2010